Pembangunan proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya resmi dimulai, ditandai dengan seremoni groundbreaking di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, pada Rabu, 22 Juli 2026. Proyek transportasi massal berbasis bus ini merupakan bagian dari Indonesia Mass Transit Project (Mastran) yang digagas Kementerian Perhubungan untuk mengatasi kemacetan kronis di kawasan Bandung Raya, dengan target beroperasi penuh pada 2027.
Seremoni dimulainya konstruksi dihadiri langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Farhan menyatakan pemerintah kota mendukung penuh pelaksanaan proyek karena diyakini dapat menekan kemacetan sekaligus mendorong investasi di wilayah yang dilintasi koridor BRT.
Dudy Purwagandhi menyebut BRT akan menjadi tulang punggung sistem transportasi massal terintegrasi yang nantinya tersambung dengan moda kereta dan angkutan lain. “Solusi yang kita perlukan bukan sekadar menambah kapasitas jalan, yang lebih penting adalah menghadirkan sistem transportasi publik yang handal,” kata Dudy. Adapun Dedi Mulyadi menyebut momen ini sebagai awal transformasi transportasi umum di Bandung Raya.
Menjangkau Lima Wilayah
BRT Bandung Raya dirancang menjangkau lima wilayah administrasi yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang, melalui 18 koridor rute yang menghubungkan simpul-simpul seperti Leuwipanjang, Cicaheum, Dago, Soreang, Baleendah, hingga Jatinangor. Sistem ini akan didukung 27 rute layanan pengumpan (feeder), 579 unit bus, sekitar 780 titik halte, jalur khusus sepanjang kurang lebih 21 kilometer, serta enam depo utama, termasuk di Terminal Cicaheum dan Terminal Leuwipanjang.
Berdasarkan rencana operasional yang dipaparkan Kementerian Perhubungan, waktu tunggu penumpang ditargetkan maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk. Proyek ini juga akan dilengkapi Intelligent Transport System (ITS) untuk memantau operasional armada secara real time.
Sumber Pembiayaan
Nilai investasi awal untuk pembangunan BRT di Bandung Raya diperkirakan sekitar Rp1,3 triliun, sebagian dari total pembiayaan Mastran yang mencapai 264 juta dolar AS atau sekitar Rp3,8 triliun. Pembiayaan proyek ini bersumber dari pinjaman Bank Dunia bersama mitra pembangunan lain, ditambah dana pendamping dari pemerintah Indonesia.
Angkot Bertransformasi, Bukan Dihapus
Farhan menegaskan keberadaan angkutan kota (angkot) yang selama ini melayani warga Bandung tidak akan dihapus dengan hadirnya BRT, melainkan akan bertransformasi menjadi armada pengumpan berbasis kendaraan listrik. Keterjangkauan tarif turut menjadi perhatian utama agar masyarakat beralih menggunakan transportasi umum. Pemerintah kota juga berencana membangun gedung parkir di sejumlah titik sepanjang koridor BRT untuk mendukung sistem park and ride.
[PERLU VERIFIKASI: rincian tarif resmi BRT Bandung Raya belum diumumkan pemerintah pada saat artikel ini ditulis]



