Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Bandung mencatat hampir tidak ada hari tanpa laporan kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung sepanjang awal 2026. Berdasarkan data yang dihimpun sejak Januari hingga Mei 2026, layanan gawat darurat itu menerima sekitar 600 panggilan darurat per bulan, dengan tiga hingga lima laporan kecelakaan lalu lintas masuk setiap harinya.
Kecelakaan lalu lintas menjadi kategori panggilan darurat terbanyak yang diterima PSC 119 dalam periode tersebut, mengalahkan kasus kegawatdaruratan medis lain di wilayah perkotaan. Tingginya kepadatan kendaraan dan kompleksitas lalu lintas Kota Bandung disebut menjadi faktor yang tak hanya memicu kecelakaan, tetapi juga menghambat proses evakuasi korban.
Layanan Darurat Siaga 24 Jam
Untuk merespons tingginya angka kecelakaan, PSC Dinkes Kota Bandung mengoperasikan 53 personel yang didukung 15 unit ambulans mobil dan enam unit ambulans motor yang siaga sepanjang waktu. Ambulans motor secara khusus dioperasikan untuk menjangkau lokasi kejadian di gang sempit atau area padat yang sulit dilalui kendaraan roda empat, guna mempercepat waktu tanggap terhadap korban kecelakaan.
Warga dapat mengakses layanan ini melalui panggilan 119, nomor WhatsApp resmi 0811-2442-119, maupun nomor darurat nasional 112.
Deretan Kecelakaan Fatal
Sejumlah insiden fatal turut mewarnai catatan kecelakaan lalu lintas Kota Bandung sepanjang 2026. Pada Selasa, 7 April 2026, dua pengendara sepeda motor tewas setelah menabrak bagian belakang truk tronton di Jalan Dr. Setiabudi.
Pada Kamis, 25 Juni 2026 dini hari, seorang pengendara motor berinisial FRP (28) asal Antapani tewas setelah motornya bertabrakan dengan mobil Avanza di Jalan PH Hasan Mustofa, depan Kantor PLN Bandung Timur, Kelurahan Neglasari, Kecamatan Cibeunying Kaler. AKP Fiekry Adi Perdana, Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Bandung, menyatakan kurangnya konsentrasi pengendara motor sebagai penyebab awal kecelakaan tersebut.
Insiden fatal lain terjadi pada Minggu, 9 Agustus 2026, ketika seorang anggota Polrestabes Bandung meninggal dunia setelah ditabrak kendaraan yang diduga melaju lebih dari 65 kilometer per jam di Jalan Merdeka dalam kasus tabrak lari. Sepekan kemudian, pada Selasa, 18 Agustus 2026, seorang anggota Linmas berusia 55 tahun tewas tertabrak angkot saat menyeberang di Jalan Lodaya. Polisi menyebut pengemudi angkot kurang berkonsentrasi saat berkendara.
Faktor Kelalaian Mendominasi
Dari sejumlah kasus yang ditangani kepolisian, kurangnya konsentrasi pengemudi kerap disebut sebagai penyebab awal kecelakaan, di samping faktor kecepatan tinggi dan modifikasi kendaraan yang tidak sesuai standar keselamatan. Kepolisian dan PSC Dinkes Kota Bandung mengimbau warga untuk lebih berhati-hati, terutama di ruas-ruas jalan padat dan titik penyeberangan yang rawan kecelakaan.



