Langsung ke konten
Selasa, 25 Agustus 2026
Terbaru

Komunitas Fable: Perajut Difabel Kampung Rajut Binong Jati yang Merajut Kemandirian

Komunitas Fable: Perajut Difabel Kampung Rajut Binong Jati yang Merajut Kemandirian

Binong Jati sudah dikenal sebagai sentra rajut sejak era 1970-an — bermula dari segelintir perajin, kawasan ini tumbuh menjadi salah satu pusat kreativitas rajut terbesar di Kota Bandung, tempat benang diolah tangan warga menjadi beragam produk bernilai jual. Di tengah geliat itu, ada kelompok kecil yang selama ini kurang mendapat panggung: para penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Fable.

Berkarya dari Rumah, Sesuai Kondisi Masing-Masing

Sekitar 10 anggota Komunitas Fable aktif merajut dari rumah masing-masing, menyesuaikan ritme kerja dengan kondisi mobilitas mereka. Koordinator komunitas, Elis Juwarsi, menceritakan bahwa dulu tantangan terbesar bukan pada keterampilan tangan, melainkan pada pemasaran. “Dulu kami kesulitan memasarkan hasil kerajinan. Sekarang kami bisa terus berkarya,” katanya.

Titik balik itu datang lewat dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina bertajuk “Bersama Merajut Asa Kita”, yang menggandeng komunitas Merajut Asa Kita (Merakit) yang lebih dulu aktif di kawasan Kampung Rajut Binong Jati. Melalui program ini, para perajin difabel memperoleh akses bahan baku, pendampingan teknis, hingga saluran pemasaran yang sebelumnya sulit mereka jangkau sendiri.

Merajut Sambil Mengelola Sampah

Yang menarik, kegiatan Komunitas Fable tidak berhenti pada kerajinan rajut konvensional. Mereka juga dilibatkan dalam proses pemilahan sampah dan daur ulang benang, menjadikan aktivitas ekonomi ini sekaligus praktik ramah lingkungan. Semangat ini bahkan ditularkan ke generasi muda: sekitar 15 pelajar SMA se-Kota Bandung pernah mengikuti program GreenBus untuk belajar langsung teknik merajut sekaligus proses pemilahan dan daur ulang sampah dari para perajin difabel Binong Jati.

Bagi anggota Komunitas Fable, merajut bukan sekadar mengisi waktu. Ia menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi dan rasa percaya diri yang selama ini sulit mereka peroleh di dunia kerja formal. Kisah Kampung Rajut Binong Jati menunjukkan bahwa ruang berkarya yang inklusif bisa tumbuh dari kampung padat penduduk sekalipun — asal warga dan pendukungnya mau membuka akses yang selama ini tertutup bagi kelompok difabel.