Langsung ke konten
Selasa, 25 Agustus 2026
Terbaru

Bank Sampah RESIK 04: Warga Cipadung Kulon Mengubah Sampah Jadi Tabungan

Bank Sampah RESIK 04: Warga Cipadung Kulon Mengubah Sampah Jadi Tabungan
Exif_JPEG_420

Di RW 04 Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, warga tidak menunggu perintah dari atas untuk mulai membenahi soal sampah. Sejak Juli 2024, kepengurusan RW 04 periode 2024-2027 bersama jajaran RT, pengurus RW, dan Karang Taruna Semanggi Sari Unit 04 merintis Bank Sampah RESIK 04 — sebuah inisiatif sederhana namun kontekstual: mengubah sampah dari beban menjadi nilai, dan dari masalah menjadi peluang kecil yang dikelola bersama.

Dari Rapat RW ke Kegiatan Rutin Warga

Setelah dirintis pertengahan 2024, Bank Sampah RESIK 04 mulai beroperasi secara rutin pada Oktober 2024 dengan sekretariat di Jalan Sindangsari RT 05 RW 04, Cipadung Kulon. Kegiatan intinya bernama Sindang Sari PISANS Week, singkatan dari Pilah Sedekah dan Nasabah Sampah, yang digelar mingguan. Warga membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah untuk ditimbang dan dicatat di hadapan pengurus.

Ada dua jalur partisipasi yang dibuka: warga bisa menjadi donatur sampah yang sifatnya sukarela, atau menjadi nasabah terdaftar yang sampahnya dicatat sebagai tabungan pribadi. Sebagian nilai sampah yang disetorkan diarahkan menjadi semacam sedekah lingkungan, sebagian lagi masuk sebagai saldo tabungan yang bisa diambil sewaktu-waktu — banyak warga memilih mencairkannya menjelang Lebaran untuk kebutuhan tambahan.

Bertahan dan Berkembang di Tengah Krisis Sampah Bandung

Merintis bank sampah di tengah krisis pengelolaan sampah Kota Bandung bukan perkara mudah. RESIK 04 sempat menghadapi tantangan operasional pada masa-masa awal, namun pengurus memperbaiki manajemennya dengan pembagian peran yang lebih jelas antar RT dan pencatatan yang lebih transparan. Hasilnya, sampai Maret 2025 tercatat 69 nasabah aktif yang rutin menyetorkan sampah rumah tangga mereka — angka yang terus bergerak seiring makin banyak warga yang percaya pada sistem ini.

Bagi warga pinggiran kota seperti di Cipadung Kulon, keberadaan bank sampah ini memberi manfaat ganda: lingkungan yang lebih bersih sekaligus tambahan penghasilan kecil bagi rumah tangga, terutama yang berpenghasilan pas-pasan. Inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi atas persoalan sampah kota tidak selalu datang dari kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari kesepakatan sederhana di tingkat RT dan RW — dijalankan konsisten, minggu demi minggu, oleh warga sendiri.